Selasa, 13 Oktober 2015

(: Edisi Masa Depan :)

217 Kata Nasehat dari Salah Satu Kakak 5mm
Yang dimaksud mendapatkan kepercayaan ditmawa gimana maksudnya? Apakah Mun ingin kerja di ditmawa atau dalam organisasi aja? Kalau dalam organisasi saja bukannya Mun udah lama dapet kepercayaan di ditmawa sejak dari Bu Mega? Tapi kalau saran kakak, ambil kesempatan ini karena Kakak sendiri merasakan kerja diluar itu kurang menyenangkan kalau tidak sesuai dengan : 1. Bidang ilmu kita, 2. Passion kita.
Kakak juga lihat, passion kerja Mun cocok di ditmawa. Jadi saran Kakak ambil saja. Untuk selanjutnya insyaallah Mun akan ada gambaran. Apakah S2 atau yang lainnya. Salah dalam kerja itu wajar. Asal jangan salah terus, itu namanya kita gak belajar. Intinya kalau dalam kerja dituntut profesionalitas. Mau di mana Mun tempatnya. Positifnya kalau Mun ambil kesempatan ini Mun sudah tahu medan dan punya pengalaman. Negatifnya pun Mun seharusnya sudah paham, sehingga bisa Mun antisipasi.
Ketika kita kerja di luar pun sama. Kita sarjana yang baru lulus masih harus memasuki proses belajar yang lamanya ditentukan sesuai perusahaan tersebut. Profesional jelas dituntut. Cuma minusnya dunianya saja yang baru, jadi kita harus ekstra adaptasi. Tapi sesuaikan juga dengan mimpi-mimpi Mun. Kalau bisa ambil kerjaan yang menunjang untuk bisa menggapai impian-impian Mun yang sudah Mun tuliskan. Kakak hanya memberikan pendapat saja. Karna pun kakak sekarang masih berada pada jalur yang tidak seharusnya. Itu hanya pendapat. Yang lebih tahu Mun. Heheeh
Hehe, terima kasih Kak atas masukannya. Setidaknya Mun bisa lebih yakin untuk mengambil keputusan apa. Tentunya setelah mendapatkan ijin dari orangtua di Kendal. Semoga bisa menjadi keputusan yang terbaik. Amin...

Jumat, 02 Oktober 2015

Cerita di Ambon Manise #2



Kisah Pensiunan ABRI asli Ambon

Namanya Kakek John Erick. Seorang pensiunan ABRI yang sudah berusia 65 tahun. Bapak dengan dua orang anak ini ternyata masih berjiwa “ABRI” dengan sepenuh jiwa idealismenya. Layaknya mahasiswa yang mempunyai idealisme tinggi untuk mendasari pergerakan yang dilakukannya. Walaupun sedikit akhirnya dari mahasiswa ketika sudah lulus dalam artian bukan mahasiswa lagi, masih memegang idealismenya. Tapi berbeda dengan Kakek John Erick yang masih memegang idealismenya bahkan sampai beliau pensiun diusia tuanya. Hidup dengan kesederhanaan dan kecukupan itulah yang dijalani Kakek J.E sehari-harinya. Kalau kata Kakek J.E, “misalkan hari ini bisa makan ikan ya makanlah, sebaliknya jika hari berikutnya hanya bisa makan bubur dengan garam ya makanlah juga.” Jadi kesimpulannya adalah syukuri setiap hari kehidupanmu, tidak perlu harta melimpah kalau hidup tidak tenang. Lebih baik hidup sederhana dan kecukupan dengan senantiasa bersyukur itulah kunci dari kehidupan yang sebenarnya.
Kakek dengan dua anak dan enam cucu ini tentunya mempunyai kisah menarik tentang pengalaman beliau selama menjadi ABRI sampai akhirnya pensiun dengan gelar Kapten. Kakek J.E mempunyai seorang istri asli suku Jawa dari Pasuruan – Jawa Timur. Fakta unik kedua tentang beliau adalah beliau menikah dengan wanita muslim padahal beliau beragama Kristen Protestan. Tidak ada yang memaksa istri harus ikut beliau masuk Kristen dan sebaliknya istri juga tidak memaksa beliau untuk masuk Islam. Inilah salah kenyataan unik ketika sepasang suami istri beda agama dapat hidup berdampingan hingga lahir cucunya. Hanya satu hal yang diperlukan yaitu kepercayaan diantara pasangan.
Ketika ditanya sudah berapa lama Kakek menikah, jawaban beliau sederhana, “sudah lama tho, kan sampai udah punya 6 cucu” dengan logat Ambonnya dan tertawa lepas.
 

Cerita di Ambon Manise #1



Cerita di Ambon Manise : Bulan Purnama di atas Teluk Ambon


            Entah mimpi apa sebelumnya hingga aku bisa sampai di tanah Ambon ini. Bagaikan melihat kepingan surga Indonesia yang lainnya saat kaki menginjak tanah Ambon untuk pertama kalinya di Bandara Pattimura. Hmm, jadi teringat uang seribu rupiah kertas yang bergambarkan pahlawan nasional Indonesia Pattimura,hehe. Ambon ibukota Kepulauan Maluku yang masuk daerah Indonesia Timur memiliki perbedaan waktu sekitar 2 jam dari Waktu Indonesia Barat. Ya yang biasanya adzan ashar di Bogor sekitar pukul 14.55 WIB, di Ambon baru adzan pukul 15.55 WIT.
            Sedikit demi sedikit mencoba menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu yang ada. Terkadang kepala terasa pening entah karena bingung atau memang masih ngantuk ya,hehe. Pukul 06.00 WIT di Ambon yang masih gelap ibarat Bogor pukul 04.00 WIB.
            Waw, sadap deh pokoknya Ambon. Sebuah pengalaman yang tak terbayarkan oleh apapun. Karena tak pernah terpikirkan olehku bisa berpergian sampai daerah Indonesia Timur. Tapi sekarang, karena kesempatan ini, aku punya teman baru di Ambon, keluarga Baru di Ambon dan destinasi trip baru yang harus patut dikunjungi saat ke Ambon. Silaturahmi baru itulah intinya.
            Dan betapa beruntungnya aku ketika Allah menyambut kedatanganku di Ambon dengan cara yang unik, tak terlupakan. Sebuah bulan purnama yang bersinar terang di langit Ambon. Tak berhenti sampai di situ saja. Bulan Purnama tersebut dengan bangga memancarkan cahaya purnamanya di langit Ambon, tepat di atas Teluk Ambon, dahsyat, subhanallah. Benar-benar tak ada lensa kamera manapun yang bisa menangkap fenomena alam tersebut selain lensa kamera mata yang dititipkan Allah kepada setiap manusia makhluk sempurna ciptaan-Nya. Allah selalu punya cara untuk membuat ku tersenyum saat melihat ciptaan-Nya.
            Subhanallah, inilah alasannku kenapa menyukai sebuah perjalanan. Karena aku bisa melihat kebesaran Allah SWT dari sudut pandang yang bermacam-macam. Yang pada akhirnya semua berujung pada satu titik akhir yaitu Allah SWT. Ini baru kisah di Ambon, sampai jumpa di tempat indah Indonesia lainnya. Bismillah...