Senin, 28 Maret 2016

[CERPEN 1]

PRASANGKA BURUK KEPADA MBAH JONO

Namanya Ibu Aisyah, yang sehari-harinya bekerja sebagai penjual sembako di rumahnya. Iya, Ibu Aisyah membuka sebuah warung di depan rumahnya yang terletak di sebuah desa nan asri dan masih dipenuhi dengan pesawahan. Setiap paginya Ibu Aisyah selalu pergi ke pasar induk yang terletak di Kecamatan. Jarak rumah Ibu Aisyah dengan pasar sekitar 3-4 km yang biasanya ditempuh oleh Bu Aisyah dengan sepeda motor.
Jangan ditanya seberapa banyak belanjaan yang akan dibawa Bu Aisyah dengan sepeda motorya, tentu saja depan belakang kanan kiri sepeda motor selalu penuh dengan belanjaan Bu Aisyah. Sayur, buah, daging, kopi, kelapa, detergen, rokok, kue kiloan, dll selalu Bu Aisyah beli demi memenuhi kebutuhan pelanggannya di rumah. Sikap ramah dan polos Bu Aisyah membuat tetangga-tetangganya selalu belanja dan kembali lagi untuk belanja di warung Bu Aisyah. Dan tentunya kelengkapan sembako yang dibuat Bu Aisyah juga lah yang membuat customer kembali lagi ke warung Bu Aisyah. Terkadang di warung Bu Aisyah juga diperbolehkan untuk utang terlebih dahulu tanpa ada jangka waktu. Jadi dalam jual beli Bu Aisyah lebih mengedepankan prinsip “kepercayaan dan kekeluargaan”. Satu hal yang selalu dipegang oleh Bu Aisyah adalah ketika kita memudahkan urusan orang lain maka percayalah urusan kita pun akan dipermudah juga. Hal itulah yang menjadi motivasi Bu Aisyah dalam membuka warung sembakonya.
Hari ini, hari Sabtu pagi ada yang berbeda dengan rutinitas Bu Aisyah sebelumnya. Biasanya Bu Aisyah belanja sembako sendiri, tapi kali ini Bu Aisyah tidak sendiri. Bu Aisyah ditemani oleh putrinya yang baru saja pulang dari tanah Sunda karena sedang menimba ilmu disana. Putri Bu Aisyah ini bernama Zahra. Zahra adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas negeri di Tanah Sunda yang menimba ilmu di jurusan Ekonomi Pertanian. Sabtu pagi yang cerah ini, Zahra mengantarkan Ibunda tersayangnya, Bu Aisyah ke pasar untuk belanja kebutuhan warung.
Seperti biasanya dulu, Zahra menunggu Bu Aisyah di parkiran belakang pasar. Zahra jadi teringat kata Bapaknya, kalau parkir di belakang pasar tak usah membayar uang parkir karena Bapak sudah membayar tukang parkir disana langsung untuk satu bulan. Waktu Zahra mengantar Bu Aisyah ke pasar dan parkir dibelakang pasar, ternyata yang menjaga parkir juga masih sama seperti dahulu yaitu Pak Jono, tapi sering dipanggil “Mbah Jono” karena memang penjaga parkir itu sudah tua.
Sesampainya di tempat parkir, Bu Aisyah langsung masuk pasar dan Zahra menunggu di tempat parkiran. Karena sudah lama tidak menyapa Mbah Jono, Zahra mencoba mendekati Mbah Jono yang tampaknya sedang melihatnya. Pikir Zahra sekalian duduk mungkin Zahra bisa menyapa Mbah Jono dan menanyai kabarnya. Ketika sudah memperkenalkan diri kalau Zahra adalah anak Bu Aisyah, Zahra pun duduk dibangku panjang depan Mbah Jono. Mbah Jono sepertinya masih agak lupa dengan Zahra. Tapi sangat terlihat kalau Mbah Jono mencoba mengingat dengan mengajukan beberapa pertanyaan ke Zahra seperti Zahra putri Bu Aisyah yang kuliah itu bukan? yang dapat beasiswa kuliahnya? yang kuliah di Tanah Sunda iya kan? Wah lagi libur ya nduk kok di sini? Udah berapa tahun kuliah disana? Setelah semua pertanyaan tersebut sudah dijawab semua oleh Zahra, akhirnya ingat juga Mbah Jono dengan Zahra.
Sambil menunggu Bu Aisyah, Zahra ngobrol dengan Mbah Jono terkait kondisi dan kabar-kabar daerah sekitar pasar yang sempat diberitakan pernah terjadi kebakaran. Sangat bijak sekali jawaban Mbah Jono dalam menanggapi berita tersebut. Tidak menyalahkan pihak manapun karena kata Mbah Jono, “Namanya juga pasar ya banyak orang nduk, ndak tau itu sengaja atau ndak sengaja, memang orang dalam pasar atau malah pemerintah atau oknum tertentu yang punya kepentingan. Yang Penting sekarang sudah beres dan tidak ada korban yang terluka. Hanya perlu hati-hati dan waspada aja.” Asyik ngobrol sama Mbah Jono, tiba-tiba ada mbak-mbak yang memanggil untuk bayar parkir dengan suara yang agak pelan. Zahra pun menyampaikan kepada Mbah Jono kalau ada yang hendak bayar parkir. Padahal Mbah Jono juga melihat ke arah mbak-mbaknya tapi kok diam aja, makanya Zahra coba menyampaikan juga ke Mbah Jono. Lalu Mbah Jono dengan polosnya bilang, “cobo nduk mahasiswa kan, tolong ambilin ya, biar belajar praktek juga jangan teori aja”. Baiklah, Zahra pun menghampiri mbak-mbak yang hendak bayar parkir tadi. Dan tiba-tiba sesuatu terjadi. Ada bapak-bapak dari sisi dalam pasar yang mencegah Zahra untuk mengambil uang parkir tersebut. Bapak-Bapak tadi bilang dengan nada agak keras, “eh eh eh, apa-apaan ini? Itu uang parkir saya kok mau diambil?” Seketika Zahra kaget dan hanya terdiam sebentar kemudian langsung melihat ke Mbah Jono yang hanya diam saja melihat ke arahnya. Zahra pun menjelaskan kalau Zahra diminta bantuan Mbah Jono untuk mengambilnya. Kemudian bapak-bapak tadi menjelaskan kalau itu uang parkirnya karena mbak tadi parkir di daerahnya sambil menunjukkan batas daerah Mbah Jono dan Bapak tsb. Okelah, Zahra paham dan berjalan kembali ke tempat bangku panjang tadi dia duduk. Zahra masih heran kenapa Mbah Jono hanya diam saja ketika Zahra kena marah Bapak penjaga parkir tadi, padahal Zahra sangat yakin kalau Mbah Jono itu melihat ke arahnya.
Setelah itu, Zahra menjelaskan ke Mbah Jono kalau uang parkirnya diminta sama bapak parkir tadi. Dan Mbah Jono pun menjelaskan hal yang sama seperti bapak parkir tadi hanya saja nada dan bahasanya sesuai dengan Mbah Jono. Pikir Zahra kenapa gak disampaikan daritadi sebelum Zahra kena marah bapak parkir? Yasudahlah abaikan. Sedikit membuat Zahra illfeel. Sampai sempat hening karena Zahra main hp dan Mbah Jono tidak mengajak ngobrol lagi. Tiba-tiba Mbah Jono bertanya ke Zahra minta tolong dibelikan rokok ke warung di pasar tersebut. Seketika Zahra jawab gak mau dengan bahasa yang halus tentunya karena Zahra sendiri perempuan, jadi gak enak kalau harus Zahra yang membeli rokoknya seakan-akan Zahra lah yang merokok. Sebenarnya gak enak dengan Mbah Jono ketika menolak membantu Mbah Jono untuk membeli rokok. Tapi Zahra juga gak mau dimanfaatkan lagi seperti sebelumnya sehingga Zahra kena marah. Mbah Jono pun memahami jawaban Zahra yang tidak bisa bantu untuk membeli rokok. Pikir Zahra kenapa orang-orang di pasar seperti itu, dari yang Mbah Jono sampai ke Bapak parkir juga. Apakah sebegitu kerasnya sehingga karakter orang-orang pasar jadi seperti itu. Sedih ketika menyaksikan hal tersebut dengan mata kepala sendiri. Sekaligus membuat diri Zahra bersyukur karena Zahra besar di daerah perdesaan yang sangat menjunjung tinggi etika dan selama kuliah pun Zahra tinggal di Tanah Sunda yang sangat terkenal dengan kehalusannya.
Tiba-tiba memecahkan lamunan Zahra, Mbah Jono bertanya lagi soal uang. Ada beberapa lembar uang kertas yang Mbah Jono tunjukkan ke Zahra dan bertanya itu uang berapa. Ada yang 5000 dan 2000. Zahra menjelaskan kalau yang abu-abu itu yang tangan kiri mbah Jono adalah uang kertas 2000 dan uang kertas cokelat yang ditangan kanan Mbah Jono adalah uang 5000. Kemudian Mbah Jono memasukkan uang kertas tadi ke dalam kantong bajunya. Pikir Zahra, apakah Mbah Jono buta huruf sehingga tidak tahu itu uang berapa saja. Ya Allah hati Zahra sempat kaget kenapa di daerahnya masih ada yang tidak bisa mengenali mata uang Indonesia.
Tak lama kemudian Bu Aisyah datang dengan belanjaannya dan Zahra langsung mengambil motor yang tadi diparkiran. Kemudian ditatalah belanjaan tadi di motor. Tak jauh dari tempat parkir, lewatlah penjual gethuk (senacam jajanan yang terbuat dari singkong). Mbah Jono memanggil penjual tersebut dan tak lama dari itu ada seorang Ibu yang mendekati Mbah Jono sambil memberikan gethuk Mbah Jono dan mengambil uang dari Mbah Jono. Karna rasa penasaran, Zahra bertanya kepada Bu Aisyah siapakah gerangan wanita tadi. Ternyata wanita tadi adalah anaknya Mbah Jono. Dan kenapa Mbah Jono tidak beranjak dari tempat duduknya dan membeli sendiri gethuk tadi?
Deg, seketika itu Zahra baru sadar setelah Zahra melihat mata Mbah Jono yang sepertinya sudah tidak fokus lagi. Apakah mata Mbah Jono . . .
Iya, Bu Aisyah bilang kalau Mbah Jono tidak bisa melihat karena sudah tua. Bisa jadi hal itu karena katarak. Lantas kenapa tidak ada yang memeriksakan Mbah Jono ke Rumah Sakit atau Puskesmas? Air mata Zahra hampir saja jatuh, tapi Zahra tahan agar Bu Aisyah tidak melihatnya. Ya Allah apa yang telah Zahra lakukan dari tadi. Zahra sudah su’udzon dengan Mbah Jono yang sebenernya memang membutuhkan bantuan Zahra dan malah Zahra berprasangka buruk kepadanya. Zahra berbicara dalam hati sembari mengendarai motor bersama Bu Aisyah.
Rasa bersalah masih hinggap dalam hati Zahra betapa tercelanya perbuatan yang baru saja Zahra lakukan. Sama sekali tidak mencerminkan pribadi seorang muslim. Ya Allah ampunilah dosa Zahra ya Allah. Ya Allah apunilah dosa Zahra Ya Allah. Ya Allah ampunilah dosa Zahra ya Allah. Berulang kali Zahra memohon ampunan kepada Allah dan selalu mendo’akan Mbah Jono agar segera disembuhkan serta semoga Mbah Jono bisa melihat kembali seperti semula. Amin ya Allah.


Sabtu, 12 Desember 2015

Shinobi Kesmah #rumahkita

Shinobi Kesmah #rumahkita : bawah kiri --> Ulfa, Wiwi, Nabila. Atas kiri --> Me, Teguh dan Tyas


Hmm, senyuman mereka membuat ku jadi kangen masa-masa itu. Senyuman yang sempat ku takutkan akan hilang dipertengahan perjuangan. Senyuman yang memperlihatkan ketulusan hati mereka dalam mengabdikan diri untuk Kesejahteraan Umat Kampus. Senyuman yang sedari awal menghiasi perjalanan dan perjuangan para Pejuang Kesejahteraan yang lainnya. Senyuman yang menjadi make-up terbaik bagi mereka. Senyuman adek-adekku tersayang.

Alhamdulillah, tak ku sangka mereka sanggup mempertahankan senyuman itu sampai di akhir perjuangan. Menyelesaikan amanah yang sudah di mulai. Mengejar mimpi-mimpi Kesmah yang sudah tertuliskan saat itu. Tak pernah berhenti untuk selalu tersenyum walaupun hal-hal yang tidak diinginkan sempat menghadang. Bukan hal yang sulit untuk dilewati ternyata ketika kita melewatinya bersama.

Dan Happy Ending ini lah yang memang ku inginkan sejak awal. Semoga dengan selesainya amanah ini, kalian semua bisa semakin meingkatkan kapasitas diri di mana pun tempatnya. Saling mengingatkan dan tetap jaga komunikasi ya teman-teman. Kapanpun kalian butuh Kak Mun, sms aja ya. Insyaallah Kak Mun bantu selagi Kak Mun bisa.

Terima kasih atas segalanya Shikes ^_^
Salam Kangen

#terusemangaterus


Selasa, 13 Oktober 2015

Annivesary AB Farming 04 Oktober 2015



Annivesary AB Farming 04 Oktober 2015
AB Farming... ya ... AB Farming. Berawal dari beasiswa PKPU angkatan I IPB. Tidak hanya tugas bulanan,kita pun dituntut untuk bisa berbagi dengan adanya tugas kelompok yaitu membuat social project. Dan AB Farming inilah yang kami berlima usulkan sebagai social project kami.
5 AnakMUDA IPB -AB Farming- Dari kanan-kiri : Million, Yunan, Iqbal, Kak Iip dan Mun
Founder AB Farming diantaranya Million Muhammad (ketua), Muhammad Iqbal, Yunan Bayu Pratama, Hanif Miftah dan Munawaroh. Kelima AnakMUDA IPB tersebut mengusulkan dan kemudian menjalankan AB Farming dengan kerjasama komunitas sosial yang ada di Bogor, seperti AgroEdu Jampang Tourism, Dunia Sosialku, Komunitas Putra Putri, Indonesia Bangun Desa dan Dompet Dhuafa. AB Farming diimplementasikan di Desa Cigelap kec Ciseeng Bogor-Jawa Barat.
Dua program unggulan AB Farming adalah #anakpetanicerdas (kerjasama dengan AgroEdu Jampang Tourism) dan #pekaranganproduktif (bersama Dunia Sosialku). Jika #anakpetanicerdas ditargetkan untuk anak-anak desanya sedangkan #pekaranganproduktif ditargetkan kepada ibu-ibu yang ada di RT 01 dan RT 03 (RW 06, Cigelap).
Wah sepertinya cukup cerita asal usul AB Farming. Back to judul. Ceritanya bulan Oktober 2014 lalu AB Farming mulai menjalankan programnya. Nah, di bulan Oktober 2015 ini tepat satu tahun AB Farming genap usianya. Sebagai ajang silaturahmi juga, Lima AnakMUDA PKPU angkatan I IPB founder AB farming menyempatkan untuk ber-refreshing bareng setelah sekian lama tidak lagi berkumpul. Sekaligus merayakan annivesary AB Farming yang pertama. Kita nonton bareng film “Everest” di bioskop Ekalokasari tepat tanggal 04 Oktober 2015. Makan bareng juga sebelum nonton.
Alhamdulillah, semoga silaturahmi ini bisa terjaga sampai nanti. Amin..
AB FARMING : Memberi untuk Membangun
#terusemangaterus


131. Nonton Bareng AB Farming :)

(: Edisi Masa Depan :)

217 Kata Nasehat dari Salah Satu Kakak 5mm
Yang dimaksud mendapatkan kepercayaan ditmawa gimana maksudnya? Apakah Mun ingin kerja di ditmawa atau dalam organisasi aja? Kalau dalam organisasi saja bukannya Mun udah lama dapet kepercayaan di ditmawa sejak dari Bu Mega? Tapi kalau saran kakak, ambil kesempatan ini karena Kakak sendiri merasakan kerja diluar itu kurang menyenangkan kalau tidak sesuai dengan : 1. Bidang ilmu kita, 2. Passion kita.
Kakak juga lihat, passion kerja Mun cocok di ditmawa. Jadi saran Kakak ambil saja. Untuk selanjutnya insyaallah Mun akan ada gambaran. Apakah S2 atau yang lainnya. Salah dalam kerja itu wajar. Asal jangan salah terus, itu namanya kita gak belajar. Intinya kalau dalam kerja dituntut profesionalitas. Mau di mana Mun tempatnya. Positifnya kalau Mun ambil kesempatan ini Mun sudah tahu medan dan punya pengalaman. Negatifnya pun Mun seharusnya sudah paham, sehingga bisa Mun antisipasi.
Ketika kita kerja di luar pun sama. Kita sarjana yang baru lulus masih harus memasuki proses belajar yang lamanya ditentukan sesuai perusahaan tersebut. Profesional jelas dituntut. Cuma minusnya dunianya saja yang baru, jadi kita harus ekstra adaptasi. Tapi sesuaikan juga dengan mimpi-mimpi Mun. Kalau bisa ambil kerjaan yang menunjang untuk bisa menggapai impian-impian Mun yang sudah Mun tuliskan. Kakak hanya memberikan pendapat saja. Karna pun kakak sekarang masih berada pada jalur yang tidak seharusnya. Itu hanya pendapat. Yang lebih tahu Mun. Heheeh
Hehe, terima kasih Kak atas masukannya. Setidaknya Mun bisa lebih yakin untuk mengambil keputusan apa. Tentunya setelah mendapatkan ijin dari orangtua di Kendal. Semoga bisa menjadi keputusan yang terbaik. Amin...

Jumat, 02 Oktober 2015

Cerita di Ambon Manise #2



Kisah Pensiunan ABRI asli Ambon

Namanya Kakek John Erick. Seorang pensiunan ABRI yang sudah berusia 65 tahun. Bapak dengan dua orang anak ini ternyata masih berjiwa “ABRI” dengan sepenuh jiwa idealismenya. Layaknya mahasiswa yang mempunyai idealisme tinggi untuk mendasari pergerakan yang dilakukannya. Walaupun sedikit akhirnya dari mahasiswa ketika sudah lulus dalam artian bukan mahasiswa lagi, masih memegang idealismenya. Tapi berbeda dengan Kakek John Erick yang masih memegang idealismenya bahkan sampai beliau pensiun diusia tuanya. Hidup dengan kesederhanaan dan kecukupan itulah yang dijalani Kakek J.E sehari-harinya. Kalau kata Kakek J.E, “misalkan hari ini bisa makan ikan ya makanlah, sebaliknya jika hari berikutnya hanya bisa makan bubur dengan garam ya makanlah juga.” Jadi kesimpulannya adalah syukuri setiap hari kehidupanmu, tidak perlu harta melimpah kalau hidup tidak tenang. Lebih baik hidup sederhana dan kecukupan dengan senantiasa bersyukur itulah kunci dari kehidupan yang sebenarnya.
Kakek dengan dua anak dan enam cucu ini tentunya mempunyai kisah menarik tentang pengalaman beliau selama menjadi ABRI sampai akhirnya pensiun dengan gelar Kapten. Kakek J.E mempunyai seorang istri asli suku Jawa dari Pasuruan – Jawa Timur. Fakta unik kedua tentang beliau adalah beliau menikah dengan wanita muslim padahal beliau beragama Kristen Protestan. Tidak ada yang memaksa istri harus ikut beliau masuk Kristen dan sebaliknya istri juga tidak memaksa beliau untuk masuk Islam. Inilah salah kenyataan unik ketika sepasang suami istri beda agama dapat hidup berdampingan hingga lahir cucunya. Hanya satu hal yang diperlukan yaitu kepercayaan diantara pasangan.
Ketika ditanya sudah berapa lama Kakek menikah, jawaban beliau sederhana, “sudah lama tho, kan sampai udah punya 6 cucu” dengan logat Ambonnya dan tertawa lepas.